BULAN MASIH MENGINTIP

0
21

Malam lelap dalam syahdu hujan barusan
Telepon berdering, terdengar suara di seberang
“Maafkan dosa-dosaku yang selalu mengganggumu”
Sejenak kantuk tersentak, tak kuasa bicara
Suaramu sudah berubah, kian memberat
tapi kamu masih terkekeh lalu terbatu-batuk.

“Aku hanya ingin mendengar suaramu”, katamu
“Istirahatlah”, pintaku.
“Kamu seperti ibuku, sok ngatur”, kekehmu terbatuk.
Air mataku menetes, melebur duka yang tak tertahan
“Aku tak mau mati kalau kau masih menangis”
“Sekarang istirahat”, pintaku lirih

Detik-detik berlalu, hanya nafasmu yang terdengar
Nyerinya menjalar di tenggorokanku, begitu terasa
“Aku akan jaga hingga subuh tiba”, kataku
Kekehmu mencekat dalam pilu yang menguras air mata
“Kamu harus ikhlas”, bisikmu kian parau
Pada semesta aku mengangguk, tak hendak menghadang.
Kubiarkan pintu gerbangnya terbuka, menyambut
ribuan cahaya untuk membersamaimu.
Kalimat-kalimat tasbih terus kuucap, terus kauucap.

Malam bergemuruh dalam hening sunyi senyap
Detik-detik memintal hingga suara dengkurmu terdengar
Ah, kau tertidur. Hatiku melapang, pelan melepaskan cekam
Kututup telepon dengan lirih salam
Tak ada lagi yang kupunya selain rajutan doa
Waktu bergerak merayap, mengajak malam menuju pagi
Di langit, bulan masih mengintip.

Interlude