CERITA DAN CAKRAWALA PENGETAHUAN ANAK

0
23

Dalam sebuah seminar tentang “Kreativitas dan Kecakapan Hidup”, Dr. Gede Raka mengatakan (2002) bahwa cerita seorang guru dapat menstimulasi anak untuk belajar lebih jauh. Pengalaman nyata yang terjadi pada anaknya menunjukkan bahwa cerita guru yang menarik tentang ilmu pengetahuan menggerakkan anaknya untuk mencari tahu lebih banyak tentang ilmu tersebut. Cerita tersebut meninggalkan kesan yang mendalam dan mampu menggugah semangat anak untuk belajar lebih mendalam. Hal itu sejalan dengan pernyataan Lenox dalam artikelnya “Storytelling for Young Children in a Multicultural Word”, bahwa bercerita dapat dimanfaatkan untuk menarik minat belajar anak di samping memperluas kesadaran dan pengetahuan tentang keberagaman lingkungan. Cerita juga dapat membantu mengatasi kendala kultural (budaya), di samping membangun jembatan pemahaman (Lenox, 2000).

Setiap anak pada hakikatnya sangat tertarik untuk mengenal dunia, dan karena dunia ini cenderung berkaitan dengan budaya dan identitas banyak orang, maka anak juga tertarik untuk mengenal budaya dan ras lain. Bercerita, menurut Lenox (2000) dapat menjadi sumber yang luar biasa untuk memperkenalkan pemahaman mengenai perbedaan ras dan etnik. Setiap hari, anak-anak sebenarnya mengumpulkan ide, imajinasi, sikap dan persepsi dari televisi, buku bergambar, cerita, kata-kata dan tingkah laku teman, pengasuh, dan orang lain yang hidup di lingkungannya. Tahap awal perkembangannya seorang anak, merupakan saat yang tepat untuk mengolah pikiran dan jiwa anak serta membangun sikap yang apresiatif dan respek pada sesuatu yang berbeda dengan diri mereka.

Baker dan Greene (1977 via Lenox, 2000) mengatakan bahwa bercerita dapat membawa anak pada sikap yang lebih baik, mempertinggi rasa ingin tahu, kemisterian, dan sikap menghargai kehidupan. Dengan kata lain, bercerita memberikan jalan bagaimana memahami diri sendiri dan memahami orang lain, serta bagaimana memahami cerita itu sendiri.

Setiap manusia adalah individu yang unik. Anak-anak pun seharusnya dituntun untuk memahami bagaimana seharusnya memahami bahwa setiap orang berbeda dalam hal fisik, pikiran, semangat, cara pandang, budaya, emosi, dan tata cara dalam kehidupan pribadi. Dalam hal ini, cerita dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk mempersiapkan anak agar dapat hidup secara harmoni dengan orang lain (dalam konteks yang luas) dalam kehidupan dunia yang dinamik. Masa anak-anak, menurut Lenox (2000) merupakan masa emas untuk memperkenalkan keberbedaan tersebut

Pemanfaatan cerita sebagai pengembangan pengetahuan anak sangat diperlukan dalam komunitas multietnis dan multikultur seperti di Indonesia. Pemanfaatan cerita dari berbagai daerah di nusantara sedikit banyak akan memberikan bekal kepada anak mengenai berbagai budaya di Indonesia. Oleh karena itu, guru seyogyanya mengenal berbagai cerita daerah, seperti cerita dari Bali, Jawa Tengah, Sumatra, Maluku, dan daerah lain.

Manfaat cerita sebagai pengembang cakrawala anak tampak pada cerita-cerita yang memiliki karakteristik budaya, seperti cerita tentang “Tujuh Orang Samurai” (cerita dari Jepang) dan “Kebunku”, karya Miranda. Demikian juga nama-nama tempat seperti Danau Toba, Rawa Pening, Gunung Batur, memberikan pengetahuan kepada anak secara tidak langsung. Selain itu, ungkapan daerah seperti “Sampurasun: rampes, kula nuwun: mangga, permisi: silakan” merupakan dialog cerita yang bernuansa budaya. Anak secara tidak langsung memperoleh informasi bagaimana kata-kata yang diucapkan orang Sunda dan Jawa ketika bertamu atau berpapasan.

Pengetahuan diperoleh melalui transmisi budaya. Anak-anak belajar tentang dunia melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebayanya melalui objek atau alat. Bagi anak, berbelanja, bermain, berjalan-jalan merupakan pengalaman belajar. Anak belajar tentang nama, proses, dan kategorisasi berbagai hal. Hal ini berada dalam koridor budaya. Melalui interaksi dengan orang dewasa yang lebih tahu inilah anak mengembangkan bahasanya guna mengisi akitivitas berpikirnya (lihat Vygotsky via Charbonneau & Reider,1995:39-40).

Pengetahuan ditransmisikan melalui dua arah, yakni secara vertikal dari generasi sebelumnya dan secara horisontal dari generasi sebayanya. Kesemuanya dilakukan melalui media bahasa. Demikian pula dengan cerita yang berpusat pada kegiatan berpikir imajinatif. Pengetahuan ditransmisikan melalui bahasa yang digunakan dalam interaksi pendongeng-pendengar, narasi cerita, dan dialog antartokoh. Melalui bahasa dalam cerita anak tahu bahwa di Bali ada gunung yang bernama Gunung Batur yang keberadaannya memiliki cerita tertentu. Anak bahkan “belajar” tentang dunia binatang ketika para tokoh dalam fabel berkomunikasi dengan mereka. Melalui cerita, anak juga tahu bahwa semua tingkah laku memiliki konsekuensi.

Pengetahuan tentang dunia terakuisisi oleh anak melalui kerja memori. Setelah menyimak cerita, anak memanfaatkan fungsi mental untuk menyimpan setiap detil cerita. Memori bekerja dengan memanfaatkan tanda sebagai simbol dalam bentuk tingkah laku mediasi. Dengan kata lain, anak-anak menangkap realitas kehidupan dalam cerita dan mengintegrasikannya dengan kapasitas linguistik untuk berpikir dan merencanakan. Vygotsky yakin bahwa abstraksi berpikir membutuhkan instruksi dalam sistem tanda yang abstrak pula seperti dalam menulis dan matematika. Menurutnya, ada perbedaan antara konsep ilmiah dan konsep spontan. Kalau konsep spontan berasal dari pengalaman anak sendiri dengan dunianya, konsep ilmiah menjadi bingkai besar untuk memahami konsep spontanitas mereka sendiri (Crain, 1992 via Charbonneau & Reider, 1995:40). Dengan demikian, ketika menyimak cerita anak mengembangkan konsep spontan dan setelah itu anak mengembangkan konsep ilmiah. Hal ini menambah wawasan anak tentang dunia sekelilingnya.

Cerita kadang menyimpan daya rangsang tinggi untuk memicu daya eksplorasi anak tentang lingkungan. Pengalaman menunjukkan bahwa anak yang menyimak cerita mengenai binatang tertentu kadang memperoleh semacam rangsang untuk mengetahui tokohnya lebih jauh. Cerita tentang perkelahian “Ular Derik dan Laba-laba Black Widow” misalnya, memacu anak membuktikan kebenaran cerita. Ia lebih aktif menggali informasi mengenai kedua binatang tersebut. Benarkah Laba-laba Black Widow lebih beracun daripada ular derik? Cerita fiksi tersebut memberikan informasi ilmiah yang merangsang anak mencari kebenarannya dalam dunia nyata yang sesungguhnya, melalui berbagai cara seperti bertanya dan membaca buku (Tadkiroatun Musfiroh)

Dinukilkan dari Buku “Memilih, Menyusun, dan Menyajikan Cerita untuk Anak Usia Dini” Sub E dari Bab VI: Manfaat Cerita
Diterbitkan oleh Tiara Wacana. Pembaca yang berminat dapat menghubungi penerbit Tiara Wacana Yogyakarta.

GUnakan standar pengutipan, seperti … (Lenox via Musfiroh, 2009)