CERITA UNTUK MEMBANGUN MORAL ANAK

0
19

Tadkiroatun.id – Perkembangan moral anak dipengaruhi oleh perkembangan intelektual dan penalaran. Anak-anak belum dapat menerapkan secara optimal prinsip-prinsip yang abstrak yang menyangkut benar salah, serta tatanan moral dan sosial yang lain. Oleh karena itu, diperlukan latihan bagi mereka tentang bagaimana berperilaku moral dalam konteks tertentu, dengan ditekankan pada bagaimana bertindak. Penanaman moral pada masa kanak-kanak dengan berbagai cara, di antaranya dengan memberikan gambaran bagaimana perilaku moral diterima dan didukung. Penanaman semacam itu, tepat dilakukan melalui cerita.

Cerita merupakan salah satu metode pembelajaran moral yang sesuai untuk anak di samping modelling atau contoh bertindak. Nilai moral dalam cerita dapat dimengerti anak karena simbolisasi nilai-nilainya melibatkan dua hal sekaligus, yakni gambaran peristiwa dan kesimpulan yang ditarik pada akhir cerita. Melalui konflik cerita anak belajar menyelaraskan hak dan kewajiban, belajar mengidentikkan apa yang dialami tokoh dengan peristiwa di lingkungannnya. Moral bagi anak identik dengan penyelesaian konflik antara kepentingan diri dan lingkungannya (Kohlberg, 1979) Moral cerita melibatkan pertarungan baik dan buruk dalam kehidupan tokoh, dan menjadi “pelajaran” yang cukup penting bagi anak. Cerita merangsang anak mengkonstruksi nilai-nilai apa yang dianut dalam agama dan masyarakatnya, perilaku yang dipuji, dan perilaku yang dilarang.

Nilai-nilai moral dalam cerita anak ditransmisikan melalui ganjaran baik dan buruk, peruntungan dan celaka. Pembentukan perilaku moral didasarkan pada ketergantungan emosional akan rasa takut dan senang terhadap ganjaran yang diterima tokoh. Dalam hal ini, anak memiliki kemampuan melakukan inferensi atau penyimpulan nilai-nilai yang didukung dan ditolak masyarakat melalui peristiwa cerita. Apa yang dialami para tokoh dicerna anak melalui konsep ini. Anak tahu bahwa yang benar mendapat bahagia dan yang salah mendapat hukuman.

Moral yang disematkan dalam cerita harus memenuhi kriteria tertentu. Koyan menyarankan bahwa moral cerita harus bersentuhan dengan perkembangan moral anak, dan memenuhi persyaratan : (1) berupa nilai etika dasar, (2) menyentuh aspek pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) memiliki tempat untuk pemraktikan, (4) operasional untuk diterapkan dalam kehidupan nyata anak-anak, (5) memperoleh dukungan dari rumah dan sekolah, (6) sejalan dengan motivasi siswa, dan (7) terdukung secara akademis melalui kurikulum. Oleh karena itu, cerita yang dimaksudkan sebagai media pengembangan moral harus memenuhi syarat tersebut (diadaptasikan dari Koyan, 2000).

Ronald Duska & Whelan M. dalam bukunya Moral Development : A Guide to Piaget and Kohlberg (1975) menyarankan agar dalam pengajaran moral melalui cerita guru membantu anak-anak memikirkan perasaan orang lain, baik yang realistik maupun fiktif. Oleh karena itu, perlu bagi guru untuk membawa perasaan anak pada kekecewaan, ketegangan, pertengkaran, kegembiraan, dengan maksud memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat melihat kejadian itu dari perspektif yang lain dari perspektif mereka sendiri (via Koyan, 2000:52).

Berbagai teori internalisasi moral (teori psikoanalisa, teori belajar sosial, dan teori atribusi) mengisyaratkan bahwa proses internalisasi moral terjadi pada masa anak-anak, yakni dari sejak lahir hingga usia tujuh tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dan guru untuk menanamkan kesadaran moral itu pada anak sejak dini, seperti disiplin diri, kejujuran, rasa hormat, kerendahan hati, keberanian, dan toleransi agar pendidikan moral itu dapat berhasil dengan baik.

Jean Piaget pada tahun 1965 menggunakan cerita sebagai alat untuk mengukur perkembangan moral anak. Pada masa itu nilai moral yang diujikan meliputi kesembronoan, pencurian, kebohongan, hukuman, keadilan imanen, dan keadilan dan otoritas. Pengukuran dilakukan dengan menyimak pertimbangan moral anak setelah mereka mendengarkan cerita.

Penggunaan cerita sebagai pengukuran moral juga diterapkan oleh Lawrence Kohlberg (dengan teknik Moral Judgement Interview), James Rest (1978) dengan teknik Defining Issue Test, maupun Henry (1983) melalui moral authority scale. Hal ini menunjukkan bahwa cerita menjadi bagian penting bagi kita untuk mengukur sejauh mana nilai moral yang dimiliki anak didik. Untuk memanfaatkan cerita sebagai metode dan materi pengembangan moral anak, guru dapat melakukan hal-hal berikut ini.

  • Lakukan observasi, nilai moral apa yang perlu dikembangkan. Observasi dilakukan secara kontinu dan malar (terus-menerus).
  • Cari atau buat cerita yang sesuai dengan nilai moral yang ingin ditransmisikan melalui cerita. Lakukan beberapa perubahan atau penyesuaian terhadap cerita. Nilai moral yang dapat dikembangkan guru di antaranya adalah kejujuran, kemurahhatian, keramahan, ketulusan, kedermawanan, kepedulian, keadilan, kesopanan, kerendahhatian, kasih sayang, kerelaan, kesetiaan, dan ketaatan.
  • Tekankan bagian tertentu yang mengemban pesan moral, dan buat anak terkesan pada bagian tersebut. Ceritakan kelakuan tokoh dengan jelas, termasuk perilaku verbal. Perlihatkan bahwa sesuatu yang jelek akan merugikan diri sendiri. Perlihatkan juga bahwa perilaku yang baik akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan semua pihak.
  • Sampaikan secara langsung apabila anak terlihat belum begitu mencerna pesan moral dalam cerita. Teknik langsung ini cenderung lebih komunikatif dan eksplisit. Cara semacam ini mengundang partisipasi aktif anak didik.
  • Sekali waktu, pergunakan teknik penyampaian moral secara tak langsung. Amati apakah anak dapat menyimpulkan sendiri nilai moral apa yang dapat dipetiknya. Nilai moral biasanya tercermin dari rasa empati anak terhadap tokoh utamanya.

Hakikatnya, perkembangan moral dapat distimulasi dengan berbagai metode, teknik, dan materi. Meskipun demikian, stimulasi melalui cerita memiliki beberapa kelebihan. Cerita memberikan pilihan, merangsang daya analisis anak melalui informasi tersirat, merangsang kepekaan akan kebutuhan dan perasaan orang lain, serta mendorong siswa menelaah perasaannya sendiri (lihat juga Nasution, 1989:162-163).

Cerita juga mendorong perkembangan moral karena amanatnya didasarkan pada konsep keadilan, tingkah laku, etika, dan kejujuran. Hal itu dilandasi oleh berbagai kaidah yang berkonteks, membina anak berpikir secara rasional tentang salah dan benar. Nilai-nilai moral dalam cerita anak diadaptasikan dari nilai-nilai dalam masyarakat. Cerita dapat dianggap sebagai “pengajaran” salah benar serta realisasi nilai-nilai yang didasarkan pada pertimbangan afektif dan eksperiensial (berdasarkan pengalaman). Hal itu sesuai dengan pernyataan Ellis bahwa perkembangan moral membutuhkan akal budi dan pendekatan analitis untuk menggali kepercayaan terhadap nilai-nilai dan kaidah-kaidah (Ellis,1998:267).

Cerita sangat efektif untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku anak karena mereka senang mendengarkan cerita walaupun dibacakan secara berulang-ulang. Pengulangan, imajinasi anak, dan nilai kedekatan guru atau orang tua membuat cerita menjadi efektif untuk mempengaruhi cara berpikir mereka. Hal itu dibuktikan oleh psikolog Joseph Strayhorn, Jr dalam bukunya The Competent Child. Ia menulis tentang kisah keteladanan positif yang berkaitan dengan masalah anak dalam dunia nyata. Cerita-cerita Joseph Strayhorn menghadirkan tokoh utama yang mempunyai sifat mirip dengan anak. Tokoh mampu memecahkan masalah secara realistis berdasarkan pikiran, perasaan, dan perilakunya. Ternyata, kisah ini mampu menjadi suri teladan bagi anak-anak (Shapiro,1999).

Cerita (terutama cerita lisan) memiliki keuntungan psikologis yang tidak diperoleh jika anak menyaksikan cerita yang sama melalui media audio visual. Banyak VCD cerita rakyat memang membuat anak-anak memperoleh informasi mengenai cerita, tetapi mereka tidak memperoleh efek kedekatan dan kebersamaan dengan si pencerita. Anak tidak mendapatkan kehangatan seperti jika mereka mendapatkan cerita itu dari guru atau orang tuanya. Efek psikologis inilah yang menjadi landasan bagi guru untuk menyemaikan nilai-nilai moral, etika, dan pekerti. Penyemaian ini membantu anak belajar mengidentifikasi permasalahan, termasuk juga belajar mengidentifikasi dan menilai diri sendiri.

Anak yang terbiasa memperoleh kebahagiaan melalui berbagai kegiatan, termasuk saat-saat menyimak dongeng, akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih hangat, kompromis, dan memiliki kecerdasan interpersonal lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan semacam itu. Guru atau orang tua yang berperan sebagai tukang cerita memiliki posisi sentral sebagai tempat bertanya dan bahkan tempat berbagi. Hubungan psikologis ini membuka peluang bagi orang tua dan guru untuk mentransmisikan ajaran moral pada anak.

Cerita mendorong perkembangan moral pada anak karena beberapa sebab. Pertama, menghadapkan anak kepada situasi yang mengandung “konsiderasi” yang sedapat mungkin mirip dengan yang dihadapi anak dalam kehidupan. Kedua, cerita dapat memancing anak menganalisis situasi, dengan melihat bukan hanya yang nampak tapi juga sesuatu yang tersirat di dalamnya, untuk menemukan isyarat-isyarat halus yang tersembunyi tentang perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Ketiga, cerita mendorong anak untuk menelaah perasaannya sendiri sebelum ia mendengar respons orang lain untuk dibandingkan. Keempat, cerita mengembangkan rasa konsiderasi atau “tepa selira” yaitu pemahaman dan penghargaan atas apa diucapkan atau dirasakan tokoh hingga akhirnya anak memiliki konsiderasi terhadap orang lain dalam alam nyata (Nasution, 1989).

Hasil penelitian di Selandia Baru menunjukkan bahwa cerita yang diberikan oleh ibu-ibu pada anak-anak mereka memberikan kontribusi yang berarti pada keberhasilan pendidikan. Anak-anak itu tumbuh menjadi individu-individu yang berhasil (lihat Mushoffa & Musbikin, 2001). Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Semiawan menegaskan bahwa cerita merupakan wahana yang ampuh untuk memahami (verstehen) dan menerobos ke dalam (penetrate into) penghayatan pengalaman anak. Cerita menjadi jalan yang tepat untuk memasuki dunia anak, karena dalam aktivitas tersebut terjadi pertemuan dan keterlibatan emosi, pemahaman dan keterlibatan mental antara pencerita dengan anak. Keasyikan dalam menyelami substansi cerita sehingga mampu memasuki dunia minat (center of interest) anak, akan menghasilkan apa yang oleh Maslow disebut sebagai penghayatan pengalaman yang paling mendalam (peak-experience). Terjadinya pertemuan itu merupakan peluang untuk menginkorporasikan segi-segi pedagogis dalam cerita. Dengan demikian, tanpa disadari cerita akan mempengaruhi perkembangan pribadinya, membentuk sikap-sikap moral dan keteladanan (Semiawan, 2002).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here