FAKTA NEGATIF GOSIP

0
112

Dulu ketika masih muda, saya banyak mendengar gosip. Ada dosen dan karyawan yang senang sekali menggosip dan saya duduk dengan senang mendengarnya. Secara tidak sadar, kesan saya pada orang-orang yang dibicarakan itu menjadi jelek. Akibatnya, banyak orang menjadi buruk di mata saya meskipun saya tidak mengenalnya secara pribadi. Ada yang pemalas, ada yang gagal mengurus rumah tangga, ada yang matre, ada yang menumpuk hutang, ada yang konflik dengan mertua, ada yang plagiarisme, ada yang agresif secara seksual, ada yang selingkuh, ada yang tamak warisan, ada yang mencuri hak orang lain, ada yang tidak becus mengurus anak, ada yang meremehkan senior, ada yang tidak tahu sopan santun, ada yang mangkir ngajar, ada yang sibuk mengurus proyek, ada yang sibuk jualan, dan banyak lagi kejelekan yang lain.

••• Akhirnya ujian tiba. Saya mendapatkan giliran digosipkan oleh teman tersebut. Duuhh sakitnya. Rasanya ingin merobek-robek mulut orang itu. Dari 4 gosip buruk tentang saya, hanya satu yang ada apinya. Selebihnya asap dan fitnah belaka. Celakanya lagi, dia hembuskan semua fitnah itu ke banyak orang dan dia sukses. Akibatnya, banyak orang yang tiba-tiba bersikap dingin tanpa sebab kepada saya. Tiba-tiba saja beberapa orang terlihat memusuhi saya tanpa berperkara. Itulah masa-masa kelam saya belajar tentang hakikat kehidupan.

••• Tahun 2001, Tuhan mengenalkan saya pada sosok Ibu, Suryati Sidharto, M.A. (almh). Diskusi demi diskusi, membuat saya sadar bahwa saya telah keliru memilih teman, keliru memasang telinga, dan keliru menyimpan file di otak. Berikut saya sarikan tentang “Fakta Negatif Gosip” Semoga bermanfaat.

1. Gosip menyita file di otak. Oleh karena itu, jangan biarkan penggosip menghembuskan gosipnya di depan Anda. Segera pergi. Jika Anda menyimak gosip, file di otak Anda akan menyimpan hal buruk dari sumber yang tidak valid. Hal buruk itu akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak Anda. File gosip berisiko buruk bagi kita. ••• Tahukah Anda bahwa penggosip itu selalu ingin mendudukkan kita sebagai bawahannya tanpa menggaji? Jika Anda menyimak penggosip, berarti Anda telah menjadi pembantunya tanpa bayaran apa pun.

2. Gosip kadang terselip dalam curhatan. Oleh karena itu, dengarkan keluhan atau curhatan teman, tetapi batasi gosipnya. Jika curhatan teman banyak berisi kebencian pada orang, cobalah hentikan (jika memungkinkan). Netralkan dan selalulah beri berita positif tentang orang lain padanya, dan sebaliknya. ••• Teman yang baik memberi obat pada teman yang sakit.

3. Gosip bisa memicu kebencian tanpa perkara. Karena percaya gosip, orang kadang terpengaruh lalu membenci tanpa perkara. Oleh karena itu, jika ada orang yang tiba-tiba dingin dan membenci Anda tanpa ada masalah sebelumnya, biarkan saja. Tidak perlu risau-galau. Itu bisa terjadi pada siapa saja. Akan ada masa orang tersebut berubah pikiran. Orang membenci mungkin disebabkan oleh: (a) cemburu sosial, (b) tidak dewasa menghadapi perbedaan pendapat, (c) gagal menyikapi gosip secara cerdas. *** Orang cerdas mungkin tidak menyukai cara berperilaku seseorang, tapi tidak akan membencinya tanpa perkara yang jelas.

4. Gosip kadang menyembunyikan kebenaran. Seseorang yang bergosip kadang menyembunyikan maksud dan kebenaran yang sesungguhnya. Mahasiswa yang menggosipkan dosen pembimbingnya sebagai dosen yang killer dan tanpa kompromi, ternyata pelaku plagiarisme yang cukup licin. Seseorang yang terus menerus menyerang sejawatnya ternyata disebabkan oleh sakit hati karena gagal berkompetisi dengan sejawatnya itu. *** Pandai-pandailah menangkap maksud dan motif agar Anda dapat menangkap kebenaran yang tersembunyi di balik gosip.

5. Gosip merusak citra diri. Oleh karena itu, jika Anda butuh curhat, curhatlah secukupnya pada teman dekat. Sedapat mungkin, hindari atau batasi curhat pada banyak orang, terlebih-lebih curhat di media sosial. Curhat publik berisiko bocor dan rentan berbalik menyerang Anda. Belum lagi jika Anda curhat kelewat banyak, orang justru akan menilai Anda sebagai “Biang Perkara”. Kebiasaan curhat di media sosial mengindikasikan Anda sebagai seorang yang labil dan tidak dewasa. Apalagi jika curhatan Anda itu disertai serangan terhadap pihak lain, maka kesan bahwa Anda labil, agresif, dan tidak dewasa, menjadi sangat jelas. *** Jangan terlalu banyak curhat, kecuali Anda bermaksud menjadikan diri sebagai bahan bakar gosip

6. Gosip merusak hubungan baik. Jangan menggosipkan teman sendiri. Menggosipkan teman sendiri, meskipun yang Anda sampaikan itu ada faktanya, menunjukkan bahwa Anda bukanlah teman yang baik. Anda bahkan telah memutus tali kasih sayang dan kepercayaan teman sendiri. Coba Anda renungkan, maukan Anda berteman dengan orang yang di hadapan Anda dia menyatakan diri sebagai sahabat tapi di belakang Anda dia menggosipkan Anda? Anda marah dan ngeri, bukan? Masihkah Anda percaya padanya? *** Tahukah Anda, gosip yang dibuat teman sendiri, lebih menyakitkan daripada gosip yang dihembuskan musuh. Orang baik tidak makan teman.

7. Gosip merusak nama baik. Umumnya orang bergosip karena melihat sisi negatif pada orang yang digosipkan, seperti bodoh, pembohong, takabur, malas, ambisius, bermuka dua, peselingkuh, kampungan, miskin, boros, gaptek, penjilat, dan hal buruk lainnya. Nama baik orang yang digosipkan akan memburuk di mata banyak orang. Stigma kadang muncul dari gosip dan secara tidak langsung, penggosip menggunakan kekuatan publik untuk membully orang yang dijadikan target. Sekarang coba Anda renungkan, maukah Anda digosipkan sebagai istri yang durhaka sementara sejatinya Anda adalah istri yang gigih membantu tegaknya ekonomi keluarga? Maukah Anda digosipkan sebagai dosen yang tidak bermutu sementara sejatinya Anda dosen yang berhati-hati dalam berkarya? Senangkah Anda digosipkan sebagai perempuan tidak laku sementara sejatinya Anda sedang jeli melakukan pilihan? Maukah Anda digosipkan sebagai pemimpin yang kejam sementara sejatinya Anda sedang menerapkan disiplin? Jika Anda mengandaikan diri sebagai orang yang Anda gosipkan, niscaya Anda tahu bahwa gosip itu menyakiti dan merusak nama baik.

*** Sedikit orang yang sadar bahwa gosip dipicu oleh kecemburuan, kesombongan, dan ketakutan, yang membuat pikiran menjadi keruh, wajah menjadi tidak jernih, dan jiwa menjadi sengsara. Gosip adalah power yang merusak berbagai sisi sekaligus.

*** Tadkiroatun Musfiroh *** Yogyakarta, 30 Juli 2016

Sumber gambar: faculty.knox