FORBIDDEN LOVE KUNTI DAN BISMA

0
9

Di padang sunyi, Dewi Kunti mereguk dukanya
Teriakan yang pilu menegakkan bulu roma
“Pada siapa kumencinta, pada percik cinta Batara Surya?”
Rumput mendengar sedunya
“Aku tak mau menanggung sesuatu yang tak kunikmati!”

 
Kunti benci perutnya, benci tubuhnya
Yang membuatnya tak lagi jelita
“Kemana ku hendak lari
Percik laknat ini tumbuh dirahimku
Mengguris semua nikmatku, melumati mimpiku”
Kunti tergugu dalam payah lesu

 
“Datanglah Bisma, datanglah”
Kunti tak juga diam, meski perutnya buncit tujuh bulan
“Jangan ingkar padaku, Kurasakan sisa air basuhmu
menyentuh tubuhku di hilir ini
kau ada dan mengada, jumpaiku
pancarkan kebesaranmu”
Batu mencatat, angin mengutip
Air menyaksi, derita pemberontakan Kunti

 
Bisma di Istana, mendengar keruh angin menderu
Tak jelas tapi ia tahu, pada detik tunggu
Bisma membuka aji bayu sejati
Menatap daun-daun berbisik tentang rindu
Bunda jelita yang celaka oleh percik cinta
Dewi yang duka tanpa akhir makna
Bisma bersedekap, menata segala
“Aku rasakan deritamu,
tapi di padang mana aku bisa menatap dukamu
Di taman ini atau di tebing-tebing sunyi?”

 
Bisma mencari, meninggalkan semua tahta
turun menyamar, mencari suara lirih luka
Tak ada tanda hingga pecah suara jabang bayi
Purnama menerangi kelahiran Karna
Bisma melesat bak bola api
Menerangi perjuangan Kunti
Melahirkan kebencian dengan cinta
Jabang kencana, membuka tangisnya
“Aku jiwa Bisma dengan tubuh Batara Kala”

 
Bisma membendung asmara merah saga
Kunti menatap, Bisma menjawab
“Akulah Bisma, Dewi jelita!”
Kunti bersimpuh, dinikmatinya bulu kaki ksatria perkasa
Bisma terpesona pada gerai mengkilat bulu dahi Kunti.
Dengan lembut dibelainya, dan berkata
“Ini jalan kita, Dewi. Biarlah kubawa jabang Karna
Kubesarkan dengan darahku, karena akulah jantungnya.”

 
Mereka bersatu, dalam hitungan waktu
Saat tak ada yang terjaga, Bisma datang
Manyatui Kunti dalam ketiadaan yang ada
Kunti milik Bisma, Bisma milik Kunti
Dalam diam Bisma berpesan
“Karna dan Pandawa, akan berhadapan oleh jelaga dukamu
Tapi mereka milikku. Aku akan moksa demi keduanya!”

 
Sejarah terbuta oleh fakta
Yang tak tertangkap kamera
Peperangan di Kurusetra menderukan debu-debu
Dan tak ada orang tahu, kisah cinta keduanya.

 
Kunti menatap, Bisma menjawab
“Setubuhi aku dengan jiwamu”
Bisma datang bersama mekar bunga-bunga
Menyatui hari Kunti di antara terang cahaya
Memeluki hatinya dengan hangat ksatria
 

Kunti menatap, Bisma menjawab
“Kuncupmu masih suci, meski kau telah bercucu”
Bisma menatap, Kunti menjawab
“Jiwamu masih telaga, meski tubuhmu merambat senja”
Keduanya tertawa dalam duka beribu depa
Bercanda dalam lautan air mata
Saling menegak dalam kuncup harap
Saling menatap, saling menjawab
Ingin bersama, ingin menjaga
Tapi perang tak pernah usai, hingga ribuan tahun lamanya
Hingga keduanya di makan usia
Dan sejarah, tak mencatatnya.
 

Yogyakarta, Desember 2005