KITA MEMANG MBELTHUT I

0
92

Kita yang terlalu takut dengan penguasa,
sering mengabaikan kepantasan bertindak
Lebih takut terpisah daripada berbeda pendapat.
Lebih takut dikucilkan daripada merdeka.

Kita benci gerombolan serigala berbulu domba
Tapi kita begitu takut berbeda
Mencukur bulu demi bulu yang lebih hangat
Tuli sapa dan buta senyum pada tetamu.

Ketika menyila, kita ini pilih-pilih
Yang bukan teman dianggap tugu
yang bukan akrab dianggap batu
yang bukan kawan dibilang kayu

Kita ini benci ketidakadilan
Tapi kita bertindak emban cinde emban ciladan
Yang satu diantar dan dikabar, yang satu dibiarkan terkapar
Tanpa risih membeda, tanpa ampun meniada

Orang pantai sumuk mendengar sunyi dalam gemuruh
Orang gunung mual disandera bagai bebek dalam barisan
Tapi kita menamakannya kebersamaan
Mbelthut sungguh kita, seperti bayi disuapi
Padahal gaji, negara yang bayar

Semakin jauh kita berjalan di lorong keputusan
kian jauh kita meninggalkan cahaya keilmuan
Semakin panjang kita melangkah dalam komando
semakin jauh kita dari suara nurani sendiri
Padahal kita diwajibkan mandiri sebagai akademisi.

— Ya, kita memang mbelthut —