Konstruk Kompetensi Literasi untuk Siswa SD (Jurnal Litera)

0
17

Tadkiroatun.id – Penelitian ini bertujuan:(1) mendeskripsikan komponen literasi versi PIRLS,(2) mengidentifikasi konstruk kompetensi literasi membaca kelas IV SD, dan (3) membuat draf konstruk kompetensi literasi kelas IV SD versi Indonesia. Pengumpulan data dengan observasi pustaka, wawancara, dan focus group discussion. Analisis data dengan metode deskriptif kualititatif. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, komponen literasi versi PIRLS meliputi: konsep literasi membaca, framework asesmen, tolok ukur, komponen literary text, dan penentuan sistem penilaian. Kedua, kompetensi literasi membaca dikonstrukkan sebagai kemampuan membaca dan memahami teks berjenis sastra dan informatif, berdasarkan empat tingkatan kognitif, dari berbagai tipe teks, dan mengikuti konteks lokal di sekitar anak dan konteks nasional. Ketiga, konstruk kompetensi literasi versi Indonesia berisi: 2-5 kata sulit, panjang teks 200 kata, komposisi tingkatan kognisi rendah hingga lanjut: 30-30-30-10, tema teks sesuai kondisi dan kultur Indonesia, ilustrasi teks yang jelas, dan tabel/grafik diberikan dalam gradasi. Hasil ini penting sebagai informasi literasi untuk dasar pengembangan kebijakan pendidikan Indonesia.

Studi tentang literasi anak-anak Indonesia oleh lembaga internasional selalu menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) melalui TIMSS tahun 1999 menempatkan Indonesia pada urutan terbawah di Asia dengan skor 51,7 dengan kemampuan baca 30%. Tahun 2006 TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan Indonesia menduduki peringkat 41 dari 46. Tahun 2011 ini, Indonesia menduduki urutan ke-38 dari 42 negara dengan rata-rata 386 untuk matematika, jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand, bahkan berada di bawah Palestina.

Hasil studi TIMSS konsisten dengan hasil PISA (Programme for International Student Assessment). Survei PISA 2009 (yang membuat level literasi 1 hingga 6) menunjukkan sebagian besar peserta Indonesia tidak mencapai tingkat 2 dalam sains dan matematika standar TIMSS. Elin Driana (Kompas, 14 Desember 2012),

Studi PISA sebelumnya, yakni tahun 2000, 2003, 2006 yang mencakup tiga aspek literasi yakni membaca, matematika, pun menghasilkan peringkat konsisten bawah bagi Indonesia. Studi yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation & Development) dan Unesco Institute for Statistics menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas IX dan X di Indonesia belum siap menghadapi tantangan knowledge society dewasa ini.

Capaian literasi Indonesia di atas menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan mengingat literasi harus dimiliki oleh setiap anak. Penguasaan literasi membuat anak mampu berpikir kritis, belajar membuat keputusan yang cerdas, tidak menjadi objek rumor, dan mampu mengendalikan tugas-tugas yang bersifat mental. Capaian literasi yang rendah menunjukkan kualitas generasi penerus Indonesia yang tidak siap menghadapi tantangan global.

Keprihatianan banyak pihak terhadap capaian literasi Indonesia kini mulai diperhatikan serius oleh banyak pihak, terutama pemerintah. Mendikbud, Muhammad Nuh, bahkan berkali-kali menyatakan keprihatinannya dengan mengutip beberapa hasil studi literasi sebagaimana yang disampaikannya di Kompas tanggal 7 Maret 2013 lalu. Muhammad Nuh menyebutkan. kurikulum baru perlu segera ada karena studi menunjukkan materi matematika dan sains untuk kelas VIII baru 70% dari target TIMSS (Kompas, 7 Maret 2013).

Rendahnya capaian literasi siswa Indonesia, tidak terlepas dari budaya literat yang rendah di lingkungan keluarga dan minimnya pembelajaran berbasis literasi di sekolah. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari kurangnya asupan literasi sejak dini. Bahkan, menurut PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) literasi siswa SD Indonesia berada pada level 41 dari 45 peserta PIRLS dengan skor 405 (IEA, 2011). Meskipun studi PIRLS tahun 2011 hanya difokuskan pada kompetensi literasi siswa kelas IV, hal tersebut tetap memberikan informasi posisi prestasi siswa SD di Indonesia dibandingkan dengan prestasi siswa sebaya di seluruh dunia.

Informasi keliterasian di atas merupakan informasi penting bagi pemerintahan dan pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Assessment berkelas dunia tersebut sekaligus memberikan input untuk membenahi kebijakan dan praktik pendidikan Indonesia selama ini dalam berbagai aspeknya. Meskipun demikian, hasil studi PISA, TIMSS, dan PIRLS tersebut tidak serta merta dapat digunakan untuk Indonesia, karena bagaimana pun Indonesia memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda dengan negara-negara barat.

Silakan klik selengkapnya pada : Sumber artikel jurnal Litera atau Sumber dari Uny.ac.id atau sumber langsung dari penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here