Mengenal Sekilas Psikolinguistik Edukasional

0
17

Psikolinguistik edukasional, merupakan bagian dari penerapan psikolinguistik dalam dunia pendidikan. Subbidang ini telah dipromosikan para ahli sejak setengah abad yang lalu. Castliglione & Carton (1976) melalui artikelnya “Psycholinguistics and Education: Directions and Divergences” yang dimual dalam Journal of Psycholinguistics Research Vol 5 Nomor 3 Tahun 1976, menyatakan bahwa penerapan Psikolinguistik, termasuk penerapan dalam pendidikan, mengarahkan riset Psikolinguistik ke permasalahan sekolah atau institusi pendidikan lainnya. Contoh kajian psikolinguistik edukasional adalah pembelajaran membaca, pembelajaran bahasa kedua, pengembangan kemampuan berbicara dan kecakapan komunikatif, serta peningkatan proses berpikir linguistik.

Lebih lanjut Castliglione & Carton (1976) menyatakan bahwa kaitan antara psikolinguistik edukasional dengan psikolinguistik murni terletak pada bagaimana setiap pandangan pembelajar yang membentang dari yang “jinak” hingga yang otonom. Bahasa dikarakteristikkan sebagai sesuatu yang artbitrer dan diderivasikan dari proses simbolisasi yang universal. Kurikulum dapat dikarakteristikkan sebagai jarak yang kontinum dari yang buram hingga yang jelas. Pemerolehan bahasa dapat dilihat sebagai produk sosialisasi atau proses yang natural. Pendidik bergerak dari instruksi ke edukasi dan dari pendekatan ke metode.

Psikolinguistik memiliki enam kajian utama, yakni pemrosesan bahasa, penyimpanan dan akses bahasa, teori komprehensi, bahasa dan otak, bahasa dalam kondisi khusus, dan pemerolehan bahasa pertama (Field, 2006: 2–3). Keenam kajian tersebut semakin diperluas dan diperdalam. Pemrosesan bahasa, misalnya, diperluas ke wilayah proses bahasa lisan dan tertulis, mendalam hingga ke proses bahasa dalam berbagai bentuk komunikasi. Pemerolehan bahasa juga diperluas hingga ke pemerolehan bahasa kedua.

Bagaimana dengan psikolingustik edukasional? Kajian psikolinguistik edukasional, dalam buku ini, mencakup kajian tentang teori pemerolehan bahasa, belajar bahasa kaitannya dengan lokalisasi-lateralisasi, dan memori kaitannya dengan pengajaran bahasa. Teori pemerolehan bahasa pertama dikaji berdasarkan aspek pemerolehan, diperluas ke metode pembelajaran bahasa kedua. Efek dari pemerolehan bahasa, yakni bilingualisme, diperluas ke masalah pembelajaran. Setelah itu, pengkajian keterampilan berbahasa dipilah secara urut dari reseptif ke produktif.

1. Pemrosesan Bahasa
Pemrosesan bahasa mengkaji apa yang sebenarnya terjadi ketika kita menyimak, berbicara, membaca dan menulis? Pada tingkatan apa sebenarnya yang kita capai ketika kita terlibat dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis itu? Bagaimana kita mengatur struktur gramatikal menjadi sekumpulan informasi?
Kajian pemrosesan bahasa ini perlu dipilah agar pembahasan tentang proses menyimak, proses berbicara, proses membaca, dan proses menulis dapat dibahas secara lebih mendalam.

2. Memori dan Bahasa
Subkajian ini menitikberatkan pada pertanyaan-pertanyaan: bagaimana kata-kata tersimpan dalam benak kita? Bagaimana cara kita untuk menemukan kata-kata tersebut ketika kita memerlukannya? Bagaimana peran tata bahasa dalam kaitan itu? Bagaimana cara agar informasi yang kita peroleh dapat kita pertahankan? Di manakah sebenarnya kita menyimpan kata dan pengetahuan kita? Semua pertanyaan diramu dalam empat subbab yakni jenis memori, pemerolehan pengetahuan, memori dan bahasa, serta pemertahanan memori. Semua kajian pada bab ini membekali pendidikan terkait karakteristik dan pemanfaatan memori dalam proses pembelajaran.

3. Teori Pemahaman
Teori komprehensi berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana kita mengatur pengetahuan tentang dunia kita untuk menghasilkan informasi baru yang dijelaskan kepada kita? Bagaimana kita melakukan konstruksi representasi makna secara global dari kata-kata yang telah kita dengar atau kita baca? Apa yang harus kita lakukan agar pemahaman kita tidak hilang atau gagal? Teori komprehensi dibahas dalam bab menyimak dan membaca.

4. Bahasa dan otak
Bahasan dari bahasa dan otak meliputi anatomi biologis, fungsi, dan karakteristiknya. Dalam psikolinguistik edukasional, bahasa dan otak dibatasi pada aktivitas otak yang terkait dengan belajar bahasa. Pertanyaan meliputi: Apa kaitan antara belajar bahasa dan periode kritis? Apakah yang dimaksud dengan lokalisasi dan lateralisasi? Di manakah otak menyimpan pengetahuan bahasa dan konsep semantik? Aktivitas otak dan otot yang terlibat pada saat kita berbicara? Dapatkah ditunjukkan bagian otak kita yang manakah yang kita gunakan untuk mengembangkan bahasa?

5. Bahasa pada Kondisi Khusus
Kajian pada subcabang ini meliputi kajian bahasa terkait dengan permasalahan belajar bahasa, baik kesilapan maupun gangguan yang bersifat genetis. Mengapa beberapa anak tumbuh dengan gangguan bahasa seperti disleksia, disgrafia, dan gagap? Bagaimana ciri yang dapat diamati pada individu yang belajar bahasa pada kondisi khusus? Apakah yang harus diketahui dan dilakukan guru terkait dengan gangguan berbahasa pada anak?

6. Pemerolehan Bahasa Pertama
Pembahasan subcabang ini sangat kompleks. Bahasan dapat meliputi pertanyaan berikut. Bagaimana seorang bayi dapat memperoleh bahasa pertama mereka? Pada tahap apakah mereka berkembang di bidang sintaksis, kosakata dan fonologi? Bukti apakah yang kita miliki bahwa kita memiliki perangkat bawaan (innate faculty) yang memungkinkan kita memperoleh bahasa pertama kita meskipun input yang kita terima sangat terbatas? Apakah pemerolehan bahasa semua anak sama, ataukah berbeda? Faktor apa yang memengaruhi pemerolehan bahasa pertama anak? Faktor apa yang memengaruhi pemerolehan bahasa pertama anak? Apakah semua aspek bahasa diperoleh secara bersamaan? Bagaimana penjelasannya?

7. Pembelajaran Bahasa Kedua
Pembelajaran bahasa kedua, pada psikolinguistik edukasional difokuskan pada metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa kedua. Metode-metode apa saha yang dikategorikan sebagai metode tradisional? Apakah ada metode kontemporer yang dapat digunakan? Bagaimana halnya dengan metode yang timbul-tenggelam atau metode transisi? Samakah proses belajar bahasa kedua dengan pemerolehan bahasa pertama? Fenomena apakah yang ditemukan dalam proses belajar bahasa kedua? Adakah belajar bahasa kedua terkait dengan bilingualisme? Strategi apakah yang dapat digunakan untuk mendapatkan bilingualisme? Apakah yang dimaksud dengan proses transfer bahasa dan interferensi?

Silakan menggunakan pengutipan standar.

Dinukil dari Tadkiroatun Musfiroh. (2017). “Mengenal Sekilas Psikolinguistik Edukasional” https://www.tadkiroatun.id/mengenal-sekilas-psikolinguistik-edukasional/

Sumber gambar: alterminds.xyz.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here