PEREMPUAN KEDUA

0
199

PEREMPUAN KEDUA
Tadkiroatun Musfiroh

Masih tercium wangi tubuhnya, ketika dia memelukku
Disambutnya aku dengan senyum mawar
Dadaku hangat dihujani sapa pelangi
Dipanggilnya aku bunda dengan mata embun pagi

Masih terasa hangat pipinya, ketika dia menciumku
Bisiknya selembut tembang pengantar tidur
“Bunda, kau mata air di pegunungan perawan”
Aku meleleh seperti lilin diselimuti api

Ketika rembulan genap dua puluh empat
Wanita itu membawa lelakiku pergi
Dikutuknya aku menjadi arca candi
Diam, bungkam, dingin, beku

Ketika bulan empat puluh masih sabit
Lelakiku pulang tapi ia amnesia
Lupa sejarah, segala memudar melenyap
Titahnya sirna, ditelan jejaring waktu

*** Kampus Ungu, 15 Maret 2016 ***