SEKILAS TENTANG RESEARCH AND DEVELOPMENT

0
89

Research and Development atau R & D, bukanlah sekedar metode penelitian, melainkan suatu prosedur yang berisi beberapa jenis penelitian. R & D adalah riset sistematik gabungan, yang menggabungkan  -setidaknya-  riset fundamental, eksploratorik, dan riset terapan. R & D mempunyai tiga tujuan, yakni menciptakan suatu produk -baik produk baru maupun produk revisi-, menyusun suatu teori keilmuan, atau menemukan solusi dari masalah yang pelik dan berisiko kontra di kemudian hari.

R & D dalam Dunia Bisnis
Setiap produk yang akan diluncurkan, dalam dunia bisnis, biasanya didahului dengan R & D. Badan riset perusahaan akan melakukan analisis kebutuhan melalui berbagai cara. Mereka mungkin melakukan survei pasar, wawancara dengan calon pengguna, menyebar angket dalam jumlah banyak, melakukan observasi penjualan produk sejenis, investigasi pasar, dan atau studi pustaka. Tanpa riset pendahuluan ini, sebuah produk mungkin tidak akan laku di pasaran atau berbahaya bagi konsumennya.

Setelah memperoleh prototipe, produk hape misalnya, tahapan validasi ahli dan serangkaian uji-coba pu dilakukan untuk mendapatkan produk yang handal. Obat-obatan, bahkan, harus mengalami uji-klinis yang memakan banyak biaya. Obat yang diproduksi benar-benar harus aman bagi konsumen, menguntungkan perusahaan, dan aman dari sudut pandang hukum. Isi produk, merk, desain cover atau bungkus, harus dibuat secara teliti dan benar-benar prosedural. Hasil uji pun harus disampaikan secara jujur, termasuk efek samping yang ditimbulkan.

Tahukah Anda perusahaan Gillete pun melakukan R & D setiap tahun secara berkelanjutan demi mendapatkan produk yang bagus, aman, dan diminati banyak orang. Bahan, ketebalan, ukuran, bahkan ketahanan menjadi fitur yang benar-benar diperhatikan oleh Gillete. Bagaimana dengan silet yang diproduksi di Indonesia?
R & D dalam Pendidikan
R & D dalam pendidikan dilakukan demi mendapatkan produk yang berkualitas. R & D yang dilakukan secara benar, menjamin kualitas produk bidang pendidikan, seperti buku, modul, media, panduan, bahkan metode, teknik, strategi, dan model pembelajaran termasuk instrumen standar. Produk yang dibuat melalui R & D yang didahului dengan need assessment jauh lebih tepat daripada produk yang dibuat berdasarkan pengalaman atau coba-coba. Kajian awal bukanlah sesuatu yang teoretis, tetapi sesuatu riset yang benar-benar objektif, faktual, sekaligus prediktif. Need assessment dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti observasi, wawancara, survei, studi dokumen, eksplorasi, dan studi pustaka. Umumnya, demi mendapatkan draf produk yang bagus, NA dilakukan dengan berbagai metode sekaligus. Ketepatan studi awal ini menentukan kualitas produk yang dibuat.

Produk pendidikan dikembangkan dari draf awal. Pertama, produk disempurnakan oleh tim peneliti dengan memperhatikan kebutuhan objektif seperti bentuk beserta elemen dan unsurnya, berdasarkan kebutuhan desain, serta berdasarkan fungsi dan jangkauan produk. Peneliti akan memperhitungkan detil produk sebelum menyodorkan produknya ke ahli atau konsultan yang ditunjuk. Penilaian oleh ahli wajib diperhatikan sebagai dasar perbaikan produk.

Pengembangan produk juga dilakukan melalui tahap uji-coba. Dalam dunia pendidikan, produk dapat diuji dalam skala kecil individu, kelompok, klasikal, maupun uji skala luas. Uji-coba disesuaikan dengan sifat produk dan jangkauan produk. Produk yang memerlukan ketelitian penggunaan dan dibatasi alat seperti komputer, umumnya dimulai dengan uji-coba satu-satu. Produk yang memerlukan pendapat kelas, umumnya dimulai dengan uji-coba kelas atau uji-coba terbatas. Hasil uji-coba inilah yang dijadikan dasar perbaikan produk sebelum masuk ke uji-coba lapangan yang lebih besar. Hasil uji-coba lapangan luas ini dijadikan dasar perbaikan guna mendapatkan produk jadi. Apabila produk media, buku, atau model pembelajaran telah melalui uji-coba luas, berarti produk tersebut siap untuk digunakan.

R & D untuk mengembangkan produk pendidikan, sebagai produk R & D bisnis, juga melalui tahap sosialisasi. Sosialisasi dapat dilakukan dengan berbagai model sehingga produk sampai kepada pengguna dan menyebar dengan cepat. Dalam dunia pendidikan, produk biasanya disosialisasikan melalui workshop, pelatihan, dan seminar. Pada produk tertentu, sosialisasi dapat dilakukan melalui proyek kepada sasaran. Di perguruan tinggi, sosialisasi dapat dikembangkan lebih lanjut melalui program pengabdian. Lebih lanjut, untuk mendapatkan produk yang pilih tanding, peneliti dapat melakukan uji-produk, yakni menandingkan produk yang dihasilkan dengan produk sejenis. Uji produk biasanya dilakukan terhadap metode, media, atau model pembelajaran.
R & D pada Penciptaan Seni
Seni memiliki metode penciptaan yang dapat disejajarkan dengan prosedur dalam R & D. Metode penciptaan terdiri dari tiga langkah utama, yakni eksplorasi, improvisasi atau eksperimentasi, dan formasi atau komposisi. Eksplorasi dapat dianalogkan dengan analisis kebutuhan. Improvisasi dan formasi dapat disejajarkan dengan uji-coba produk. Dalam penciptaan seni, uji-coba dilakukan di lapangan kanvas, stage pertunjukan, atau lapangan lain yang setara dengan kelas. Oleh karena seniman dalam penciptaan sejajar dengan ahli, maka validasi dapat dilakukan melalui teknik pemorakan oleh penciptanya sendiri. Sosialisasi dalam produk penciptaan mungkin berupa pameran lukisan, pertunjukan seni, atau konser musik. Dalam kegiatan pameran, pertunjukan, atau konser itulah, peneliti akan memperoleh tanggapan dari para pemirsa atau penikmat seni. Berbeda dengan produk pendidikan, uji produk dalam produk seni -umumnya- tidak dilakukan. Setiap karya seni memiliki keunikan tersendiri (Itadz: Tadkiroatun Musfiroh).